Luaz Foundation menggelar Pelatihan & Praktek Menulis Cerpen bertajuk “Menghidupkan Cerita, Menumbuhkan Cinta Baca” dengan menghadirkan Olga Mia Soransa, S.Si, sapaan akrab “Kak Olga”, seorang penulis, sebagai narasumber.
Kegiatan yang dilaksanakan di Sekretariat Luaz Foundation, Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah ini diikuti oleh 20 peserta dan menjadi bagian dari implementasi Program Peningkatan Kapasitas Penggerak Literasi Tahun 2026 yang didukung oleh Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 9, 16, 23, dan 30 Agustus 2026. Sesi pertama pelatihan yang berlangsung pada Minggu, 9 Agustus 2026, turut dihadiri oleh Perwakilan Balai Bahasa Provinsi NTB, Toni Samsul Hidayat (Penerjemah Ahli Madya), Bunda Literasi NTB Sinta Agathia M. Iqbal, Bunda Literasi Lombok Tengah Hj. Baiq Nurul Aini Pathul Bahri, Kepala Desa Penujak, serta perwakilan peserta pelatihan. Dalam sambutannya, Bunda Literasi NTB, Sinta Agathia M. Iqbal, menekankan pentingnya membangun kemampuan berpikir kritis pelajar melalui kegiatan literasi, khususnya menulis, di hadapan puluhan pelajar tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Lombok Tengah yang menjadi peserta pelatihan.

Peserta pelatihan berjumlah 20 orang yang berasal dari berbagai sekolah di Kabupaten Lombok Tengah, dengan sekolah setingkat SMA/MA yang berpartisipasi antara lain MAN Praya, SMAN 1 Praya Barat, dan MA Al-Hananniyah.
Menyampaikan harapannya terkait pelatihan ini, Kak Olga berharap kedepannya acara ini bisa menghasilkan karya yang layak untuk dipublikasikan dengan proses pendampingan secara intensif, mulai dari pengembangan ide, penyusunan alur cerita, penokohan, teknik penulisan, hingga penyuntingan naskah dan penerbitan karya. Rangkaian pelatihan ini dirancang melalui empat kali pertemuan dengan total 6 jam pelajaran (JP) per pertemuan, yang mencakup tahap pelatihan dasar, pengembangan naskah, revisi dan penyempurnaan, hingga finalisasi dan presentasi karya, dengan target akhir tersusunnya minimal 20 naskah cerpen karya peserta yang akan diseleksi dan dihimpun dalam sebuah buku antologi cerpen.
Minggu, 9 Agustus 2026, kegiatan Pelatihan & Praktek Menulis Cerpen resmi memasuki Pertemuan I di Sekretariat Yayasan Literasi Ulul Azmi (Luaz Foundation), Desa Penujak, Lombok Tengah. Bertajuk “Dasar Menulis Cerpen & Menggali Ide”, pertemuan perdana ini menjadi langkah awal dari rangkaian penyusunan antologi cerpen berjudul “Cintailah Dirimu: Merangkul Luka, Menemukan Bahagia”, yang akan memuat karya 20 penulis muda peserta pelatihan.
Materi Dasar: Mengenal Sastra dan Anatomi Cerpen
Sebelum masuk ke sesi praktik, Kak Olga selaku narasumber telah memaparkan materi dasar tentang sastra dan cerita pendek. Ia menjelaskan bahwa sastra merupakan karya kreatif yang menggunakan bahasa sebagai media untuk mengungkapkan gagasan, imajinasi, perasaan, dan pengalaman hidup manusia, dan cerpen adalah salah satu bentuknya. Ia juga memaparkan tujuh unsur intrinsik pembentuk cerpen yaitu tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat serta ciri-ciri yang membedakan cerpen dari bentuk fiksi lain: singkat dan padat, berfokus pada satu konflik utama, tokoh terbatas, serta alur yang sederhana.
Pada materi kedua, Kak Olga membahas teknik menemukan ide, tema, dan konflik dalam cerpen. Ia menegaskan bahwa tema harus menjadi “ruh cerita”, bukan sekadar tempelan tema self-love yang diusung dalam antologi ini harus benar-benar menjadi penggerak konflik dan keputusan tokoh, bukan hanya disebutkan di kalimat penutup. Ia juga memaparkan delapan sumber ide cerita, mulai dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, pengamatan, percakapan, lingkungan sekitar, berita, budaya lokal, hingga media sosial.
Menggali Ide lewat Sticky Note dan Tiga Pertanyaan Pemantik
Selain memaparkan materi, Kak Olga juga mencoba menggali ide 20 peserta dengan memberikan sticky note untuk menuliskan jawaban atas tiga pertanyaan pemantik yang diajukannya:
- Momen kapan kamu atau orang terdekatmu pernah pura-pura baik-baik saja?
- Hal apa yang paling sulit kamu maafkan dari dirimu sendiri?
- Kapan kamu pernah merasa “pulih” walau sedikit?
Ketiga pertanyaan reflektif ini dirancang agar peserta dapat menggali ide cerita secara jujur dari pengalaman pribadi mereka sendiri, sekaligus menyelaraskan ide tersebut dengan tema besar antologi.

Membacakan Sticky Note dan Mengaitkannya dengan Sub-Tema Buku
Selain itu, Kak Olga membacakan satu per satu sticky note yang telah ditulis peserta, lalu mengangkut-pautkan jawaban tersebut dengan lima sub-tema besar antologi, yaitu Penerimaan Diri, Kehilangan, Harapan, Keberanian, dan Proses Penyembuhan. Melalui cara ini, peserta dapat melihat sendiri ke arah mana pengalaman dan perasaan yang mereka tuliskan bisa dikembangkan menjadi sebuah cerita, sekaligus mulai menentukan sub-tema mana yang paling dekat dengan ide mereka masing-masing.
Ia juga memperkenalkan struktur cerita klasik yang dipetakan ke tema self-love/healing, terdiri dari lima tahap: Orientasi (mengenalkan tokoh yang menyimpan luka di balik keseharian yang tampak biasa saja), Komplikasi (kejadian yang membuat luka makin terasa), Evaluasi (titik tokoh “pecah” dan tak bisa lari lagi dari masalahnya), Resolusi (momen tokoh mulai menerima dan memaafkan diri), serta Koda (pesan tentang mencintai diri sendiri yang bisa direnungkan pembaca). Materi ini diperkirakan menjadi bekal utama peserta dalam menyusun kerangka cerita masing-masing sebelum masuk ke sesi praktik menulis.
Setelah sesi materi, Kak Olga menutup rangkaian Pertemuan I, Kak Olga memberikan dua tugas yang harus dikerjakan peserta sebagai bekal sebelum Pertemuan II, yaitu:
- Menyusun premis cerita merangkum inti cerita dalam satu hingga dua kalimat, dengan pola [Tokoh] + [situasi/masalah] → [akibat/perubahan].
- Mengisi Peta Cerita Mini : lembar kerja lima tahap yang mencakup Situasi Awal, Luka/Masalah, Titik Balik, Proses Pulih, dan Pesan Akhir.
“Jangan lupa kerjain 2 tugasnya ini ya. Terutama yang mondok kerjain sekarang karena tidak diperbolehkan bawa hp di pondok,” pesan Kak Olga mengingatkan seluruh peserta, terutama bagi mereka yang tinggal di pondok pesantren dan tidak diizinkan membawa ponsel selama berada di lingkungan pondok.
Harapan Founder Hanifa Publishing Digital
Sebagai Founder PT. Hanifa Publishing Digital, Kak Olga berharap setiap peserta dapat membawa pulang premis cerita yang jelas serta Peta Cerita Mini sebagai bekal menulis draf pertama pada Pertemuan II. Ia menegaskan bahwa naskah-naskah yang telah disusun peserta pada Pertemuan I ini nantinya akan dilakukan pembimbingan intensif dan revisi hingga layak terbit, melalui rangkaian Pertemuan II (Pengembangan Naskah), Pertemuan III (Revisi dan Penyempurnaan Naskah), dan Pertemuan IV (Finalisasi dan Presentasi Karya), sebelum akhirnya dihimpun menjadi buku antologi cerpen “Cintailah Dirimu: Merangkul Luka, Menemukan Bahagia”.
